W E L C O M E T O M Y B L O G

Make Your Own Story \(^O^)/

Thursday, 15 December 2011

Kau Akan Slalu Terkenang Dalam Hatiku (Part 3)

Keesokan harinya, pukul 07:30 p.m. di rumah Fida...


"Halo? iya iya, ... aku udah di jalan nih. ... Bentar ya Fida sayang... hehe, ... wuah wuah iyaa deh maap maap wkwkwk. ... tunggu ya. haha bye!" sahut Onix menutup pembicaraan. Barusan Alfida meneleponnya untuk menyuruhnya datang cepat karena setengah jam lagi acara pesta ulang tahun Fida akan segera dimulai. Fida sungguh sangat tidak sabar menunggu sahabatnya itu datang, karena ia sangat penasaran dengan kado yang dibawa oleh Onix. Dalam hati ia berdoa agar Onix sampai dengan selamat dirumahnya. Sungguh, malam ini perasaannya sangat tidak enak. Ada sesuatu yang mengganjal di hati Fida.

Beberapa saat kemudian, terdengar ponsel Masnand berdering. "Halo, iya saya Nandira. Ada apa ya? ... Apa ?! ... Iya baik, saya akan segara kesana! terima kasih!" klik!, Nandira memencet gambar berwarna merah di layar hp-nya. "Ada apa mas? Kok kayaknya Masnand panik banget?" Tanya Fida. "hmm.. temen mas kecelakaan sayang, jadi mas harus pergi dulu ya, ntar mas beliin boneka deh sebagai kadonya, byee Fida" ucap Masnand sambil berlari tergesa-gesa. Fida pun terdiam di tempat. Ia tak sanggup berkata apa-apa lagi. Onix yang ditunggunya tak kunjung datang, Bahkan sekarang sudah menunjukkan pukul setengah sembilan! Ia merasa sangat pusing, lalu tiba-tiba gelap. "Fida! Fida! bangun naak!" Jerit mama Fida sambil menangis tersedu-sedu.

Di Rumah Sakit Amlinff Mauriel pukul 08.30 p.m Unit Gawat Darurat

"Nan, lo... ngerti kan maksud gue? Kalau... setelah ini gue... pergi, gue mohon lo mau... memberikan boneka beruang ini sama... Fida sebagai kenang-kenangan... dari gue. gue tau dia... punya penyakit jantung, Nan... Setelah gue mati ntar, gue bakal ngedonorin... jantung gue kepadanya. Tapi... jangan pernah lo kasi tau dia... ya, gue mau lo janji... sama gue Nan... Argh..." kata Onix tersendat-sendat di sela-sela rasa sakit yang menghantamnya. "Hmm... iya Nix, gue janji. tapi, kenapa lo ngomong kayak gitu? apa maksud lo?" tanya Nandira. "Gue sayang banget sama Fida, Nan. Sejak pertama gue kenal dia, gue bener-bener ngerasa nyaman didekat dia. Gue tau kalo dokter menvonis dia bakal mati hari ini, tapi gue bakal ngedonorin jantung gue ke dia Nan. Dia bakal hidup seribu tahun lagi." sahut Onix sambil tersenyum. "tapi lo jangan pergi ninggalin gue gitu aja dong, Nix. Ntar siapa lagi temen konvoi gue kalo bukan elo? lo jangan mati yah, Nix" sahut Nandira. terlihat matanya mulai berkaca-kaca. "haha, gue ga mati kok, Nan. gue bakal selalu hidup di dalam tubuh adik lo. Kalo lo emang bener sahabat gue, lo mesti jagain dia baik-baik. mungkin ini saat terakhir kita ketemu Nan. See u next time. Lo jangan lupain yang gue bilang tadi ya... Argh..." Onix pun menghembuskan nafas terakhirnya. Pergi meninggalkan dunia untuk selama-lamanya...

"Ma! aku udah dapet calon donor nih." Teriak Nandira. "Baiklah, segera bawa dia ke ruang bedah, sus" kata dokter. "Baik Dok" Jawab suster. Tak lama kemudian, suster dan segenap tim bedah melakukan tugasnya. Lima jam kemudian, dokter keluar dari ruang bedah tersebut. "gimana dok?" sergap mama Fida. "alhadulillah berhasil bu. anak ibu sangat kuat. ibu beruntung mempunyai anak seperti dia. jarang lho bu ada yang bisa bertahan dalam kondisi seperti itu. selamat ya buk" salam pak dokter. "Terimakasih banyak dok! Alhamdulillah ya Allah!"ucap mama Fida seraya sujud syukur. Suasana di ruangan itu pun menjadi sangat haru. Mendadak Nandira teringat akan sesuatu, "Ma, mama jangan pernah ngasih tau Fida soal siapa yang donorin jantungnya, ini pesan si pendonor sebelum meninggal sama aku ma!" Bisik nandira di telinga mamanya. "Hm, iya deh nak. mama akan jaga rahasia ini.." Balas mama Fida.

Dua bulan kemudian, tanggal 31 Desember 2010 pukul 20:00 di atas atap rumah Fida

"Sebel! udah dua bulan aku nungguin Onix di taman, tapi dia ga pernah balik-balik lagi. Aku benci kamu Nix!" teriak Fida seraya membenamkan kepalanya diatas lututnya. "Fid, ada yang mau mas bilang ke kamu. Ini soal Onix..." Sahut Nandira menghampiri Fida. "apa? Masnand kenal sama Onix? Kok bisa?" Tanya Fida beruntun tak sabaran. "Iya, dia temen sekantor mas. Kamu pasti bertanya-tanya siapa yang donorin jantung itu kan?" kata Nandira sambil memmbelai kepala adiknya itu. "Iya mas, emang siapa yang donorin? Fida kenal sama orangnya?" tanya Fida kembali. "Fida kenal kok, kenal dekeeet banget. Dia ngasi ini ke kamu sebagai ganti dia ga bisa ada di pesta ultahmu" sahut Nandira sambil memberikan sebuah boneka beruang kepada Fida. "Hm.. siapa ya? Mas ya orang nya?!" jerit Fida seraya memeluk mas kesayangannya itu. Nandira pun melepaskan pelukan itu. "bukan adikku sayang, buka deh boneka nya" sahut Nandira kemudian. Kemudian pun Fida membuka boneka nya. Ia menemukan sepucuk surat didalam boneka tersebut :

          "Dear Alfida. Selamat ultah ya :D haha. maaf aku ga bisa lama di dekat kamu akhir-akhir ini. hehe, maaf juga kalo aku ga berani ngomong langsung ke kamu. hmm... Fid, aku sayang kamu banget! hehe maksudnya, aku cinta sama kamu. kamu mau ga jadi pacarku? kutunggu jawabmu besok di taman kemuning jam 09:00 see u Fida!"

~Terlukis indah raut wajahmu dalam benakku
Berikan ku cinta terindah yang hanya untukmu
Tertulis indah puisi cinta dalam hatiku
Dan aku yakin kau memanglah, pilihan hatiku...
-Onix-

"Malam itu dia kecelakaan Fid, dia cuma sempat ngasi boneka ini ke aku. Itu makanya dia ga bisa dateng kepestamu malam itu... Maafin mas ya, udah ngerahasiain ini dari kamu, dia sendiri yang bilang agar ga ngasi tau kamu soal ini. tapi apa boleh buat, mas ngingkarin janji mas supaya kamu ga berprasangka buruk lagi sama dia. kamu jaga diri ya dik. Mas mohon kamu jaga jantungnya dia. Mas tau kamu juga sayang sama dia" kata Nandira seraya mendekap Fida yang berada dalam tangisnya. Malam itu, langit sepi tanpa bulan dan bintang. Hanya ada hembusan angin malam, serasa memeluk dirinya dalam keheningan malam. Sayup-sayup terdengar sebuah lantunan lagu:

Thanks for all you’ve done
I’ve missed you for so long
I can’t believe you’re gone
You still live in me
I feel you in the wind
You guide me constantly


I’ve never knew what it was to be alone, no
Cause you were always there for me
You were always there waiting
And ill come home and I miss your face so
Smiling down on me
I close my eyes to see


And I know, you’re a part of me
And it’s your song that sets me free
I sing it while I feel I can’t hold on
I sing tonight cause it comforts me


I carry the things that remind me of you
In loving memory of
The one that was so true
Your were as kind as you could be
And even though you’re gone
You still mean the world to me


I’ve never knew what it was to be alone, no
Cause you were always there for me
You were always there waiting
But now I come home and it’s not the same, no
It feels empty and alone
I can’t believe you’re gone...


-Alter Bridge_In Loving Memory-

----------The End----------

Wednesday, 14 December 2011

Kau Akan Slalu Terkenang Dalam Hatiku (Part 2)




Sesampainya di taman, Fida langsung melonjak keluar dan meregangkan badannya. Nandira sungguh tidak menyangka kalau adiknya benar-benar ingin pergi ke taman. Ia sendiri jadi tidak tega menyuruh adiknya pulang. "Mas, ntar kita pulang jam berapa? jangan cepet-cepet ya mas, aku kan bosan dirumah terus. Sekali-kali aku juga pengen duduk lama sambil baca buku ato ngapain kek gitu diluar rumah, hehe." kata Fida. "haha iyaa deh Fid, tapi jangan lupa sama janjimu tadi ya.. hihi" kata Nandi mengingatkan adiknya yang rada pikun itu. "hoho sip mas. eh iya, mas mau kemana lagi? mau nungguin aku disini ato kemana?" tanya Fida. "hmm ga tau deh. eh tunggu bentar ya, mas angkat telpon dulu. Dari siapa ini? eh.. WOOAHH LUNA! eh bentar ya Fid! Halo sayang, kenapa? ... hah? ... eh iya iya aku kesana sekarang, tunggu ya, bye! Fid, mas mau ketemu iparmu dulu, ada urusan penting. kamu jaga diri ya, jangan sampai jatuh loh. kalau ada apa apa ntar telepon mas aja ya dik! sip" sahut Nandi. "Iya mas, aku bakalan baik-baik aja kok" ucap Fida meyakinkan masnandnya. tak lama setelah itu, Nandira pun mencium pipi adiknya dan segera melesat kencang meninggalkan taman itu menuju kediaman Luna, pacarnya.

Fida masih duduk dengan santainya sambil baca buku di taman Kemuning yang terletak di tengah kota Edensor. Yap, nama kota itu adalah kota Edensor, kota impian. Fida adalah salah satu orang beruntung yang bisa tinggal di kota impian ini. Dahulunya Fida lahir di Newark, New Jersey. Namun sejak papanya meninggal, keluarga mereka pindah ke kota Edensor mengingat masih ada family mereka yang menetap disana. Fida merupakan seorang blasteran Indo-Prancis. Jadi, dia lumayan bisa banyak bahasa asing. Fida hanya sekolah sampai kelas 2 smp karena penyakita jantungnya sangat tidak memungkinkannya untuk beraktivitas terlalu berat. Namun, dia masih beruntung punya abang yang setia dan mau mengajarinya banyak hal. termasuk dalam hal desainer interior. Fida bercita-cita ingin menjadi seorang Interior Designer. Oleh karena itu, ia tekun mempelajari hal itu dari abangnya. Ia sudah membuat bermacam-macam rancangan design yang sangat bagus. Ia bertekad untuk mewujudkannya nanti.

"hai! kamu Fida kan? Salam kenal yaa Fid." sahut sebuah suara tak dikenal menghampiri Fida. "hmm maaf, kamu siapa ya? kok bisa kenal sama aku?" tanya Fida merasa tidak mengenali orang yang duduk di sebelahnya. "Aku Delonix. tetanggamu. Biasa dipanggil Onix haha. Kamu kok engga pernah keluar rumah? Sumpah, sejak tinggal disini, ini pertama kalinya aku liat kamu keluar rumah lho" ujar Onix memulai percakapan. Fida yang sukar terbiasa dengan orang baru, membalasnya dengan ucapan jutek "Emang ada kepentingan situ ngurusin aku? Mau elo Onix kek, Enox kek, ato apa aja laah, BUKAN URUSAN GUE! ngerti?" Onix pun tertawa lebar "Hahaha ternyata kamu jutek juga ya. Ya deh... Mungkin kamu lagi dapet ya? atau lagi bete? Kok marah-marah sih? Ntar cepet tua loh, jadi nenek-nenek hihi" goda Onix. "Terserah" Fida jadi makin bete. "Hehe, nenek-nenek imut maksudnya... hahaha" Ucap Onix seraya tertawa lebar. "Ih, rese deh" Fida mencubit Onix. Namun tak terasa, waktu berjalan dengan cepat. Fida dan Onix terlihat sangat akrab bercanda. "Tiiittt! Tiiiiitttt!" terdengar bunyi klakson sebuah mobil. "Eh, aku pamit pulang dulu ya Nix, haha makasih udah hibur aku. aku seneeeng sekali hari ini" Ucap fida tersenyum melambaikan tangan sambil berlari kecil menuju mobil jemputannya. "iya Fid! besok kesini lagi ya! byee" teriak Onix membalas lambaian tangan Fida.

Keesokan harinya, Fida tidak pergi ke taman karena ia harus menerima transfusi darah baru karena jantungnya tidak begitu kuat memompa darah ke seluruh tubuh. Dua minggu kemudian dia baru kembali lagi ke taman Kemuning. "Hai Fida! lama ga ketemu. Kemana aja kamu? Aku kangen tau!" sahut onix sambil memeluk Fida. Fida kaget karena di peluk tiba-tiba. Dia langsung pingsan dan terkulai lemah. "Fida? Fida kamu kenapa Fid?!" jerit Onix panik dan langsung membawa Fida kerumah sakit terdekat untuk diobati. Barulah ia mengetahui bahwa Fida menderita penyakit jantung akut dan umurnya sudah tidak lama lagi. Ia merasa sangat sedih apabila harus kehilangan Fida. Ia sangat menyayanginya.

Seminggu kemudian, Fida kembali ke taman tersebut untuk menemui Onix. Tak tau mengapa, ia merasa sangat merindukan lelaki itu. Ia merasa sangat nyaman bersandar di bahunya. "Hmm... Onix mana ya? aku kangen dia..." Bisik Fida dalam hatinya. "hai Fida! maaf ya, kemaren ini aku ngejutin kamu.. aku ngga tau kalau kamu punya penyakit jantung dan..." Onix terdiam. "Udah Onix, ga papa kok. hehe aku seneng kamu udah ada di samping aku sekarang. Aku kangeeen banget!" ucap Fida seraya memeluk Onix. Namun segera ia sadar bahwa ia sudah keceplosan. Dia langsung melepaskan pelukannya. "Hehe, maaf ya Nix! Reflex tadi woahaha. Eh iya, kamu dateng ya besok pas hari ulang tahun aku. Aku tunggu lo Nix! Jangan lupa kasi kado hehe" Sahut Fida. "Haha, kamu mau kado apa Fid? ntar aku beliin deh." tanya Onix. "Eh, eh tadi aku cuma bercanda kok Nix. Ga kasi kado juga gapapa. Yang penting kamu dateng ya" tolak Fida merasa tidak enak dengan tawaran Onix. "Haha, gapapa kok. Pestanya mulai jam berapa?" Tanya Onix kemudian. "Hmm... Jam Delapan malam, Nix. Kamu jangan telat ya" Pinta Fida. Tak lama kemudian, Onix mohon pamit. Ia ingin membeli sebuah kado untuk Fida. Kado istimewa, sebagai kenangan terakhir untuk sahabat barunya itu. Terakhir, ya. Karena Fida akan meninggalkan mereka semua, termasuk Onix. Fida akan pergi untuk selamanya besok..

Keesokan harinya, pukul 07:30 p.m... (Bersambung)

Tuesday, 13 December 2011

Kau Akan Slalu Terkenang Dalam Hatiku (Part 1)




"Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga, sekarang juga, sekarang juga... Yeeeyy... Selamat ulang tahun ya, Nak. Semoga kamu panjang umur dan sehat selalu. Kami semua, sayaang sekali kepadamu" ucap mama Fida seraya memeluk erat anak kesayangannya itu. "Hmm.. Iya Ma, Fida juga sayaang banget sama... Argh, sakit! Sakit maa..." teriak Fida kesakitan dan tergolek tak berdaya. "Fidaa! Fidaaaa....!! Jangan tinggalkan mama naak..."
----------Lima Tahun Kemudian----------
"Penyakit jantung anak ibu sudah mencapai stadium 4, bu. Jadi, bagaimana keputusan selanjutnya, apakah akan tetap dibiarkan seperti ini atau bagaimana? Kami sudah tidak bisa berbuat banyak bu. Mungkin umur anak ibu tak akan berlangsung lama lagi. Maafkan kami bu..." sang dokter terdiam, tak sanggup berkata apa apa lagi. "sudahlah dok, saya mengerti, Kami akan memberikannya hari hari terindah dalam hidupnya. Kami berjanji, dok. Terima kasih atas semua usaha pak dokter selama ini ya. saya pamit pulang dulu." sahut mama Fida beranjak meninggalkan ruangan pak dokter.
=========================================================================
Pagi yang indah. Dari dalam sebuah kamar, terdengar suara kuapan dari seorang gadis. Ia terlihat sangat manja dengan daster pink dan rambut panjang yangmengembang acak-acakan ala anak gadis baru bangun tidur. "pagi ma, pagi mas! Tante sama nenek belum bangun ya, bik?" tanya Fida sambil menguap lebar. "aduh aduh, anak mama baru bangun. hihi mandi dulu sana, biar harum. Ga bau asem gini hahaha" kata mama Fida sambil menggoda anaknya yang baru bangun tidur itu. "hoalaaa... Iyaa deh maa... Bik, tolong bangunin tante ya bik, aku mau makan sup buatan tante hari ini hehe" sahut Fida sambil cengengesan. "siap non, hehehe"

Fida sebenarnya bukanlah anak yang manja. Ia terkena penyakit jantung akut turunan dari papanya. Papanya sudah meninggal lebih dari sepuluh tahun yang lalu saat ia masih berumur tujuh tahun. Namun ironisnya, ia tidak mengetahui bahwa dokter menvonis umurnya hanya sampai delapan belas tahun. Itu artinya, usianya hanya tinggal satu bulan lagi terhitung dari sekarang, tanggal 19 september 2010. Fida yang malang. Mama dan seluruh keluarga besarnya menyembunyikan hal ini dari Fida mengingat penyakit jantungnya yang sering kambuh apabila ia sedang terkejut. Mereka tidak ingin umur Fida menjadi semakin berkurang. Mereka sangat menyayangi Fida...

"Aku bosan dirumah terus mas, aku juga ingin main keluar seperti remaja lainnya yang seusiaku. Boleh ya mas, ya ya ya?" rengek Fida kepada abangnya, Nandira. Namun, ia biasa memanggilnya Masnand. "hhh~ ada ada saja kamu ini Fid, udah jelas sakit-sakitan, tapi masi juga mau keluar rumah. Mas bukannya ga ngebolehin kamu keluar, tapi kamu itu sering pingsan. Ntar kalau kamu kenapa-kenapa, mas lagi yang di salahin sama mama." larang Nandi. "tapi mas, aku cuma pengen jalan-jalan aja kok. Mas sendiri yang bilang kan kalo aku tambah gendut, jadi harus sering olahraga. Nah, ayolah mas. Aku cuma pengen liat-liat bentar kok. Hehe, ntar aku kasi cium deh... wkwkwk" rayu Fida. "Ogah! Ntar yang ada, Luna malah marah-marah sama kamu, jelek. Gara-gara liat ada cewek jelek nyium aku, ihh~" tolak Nandi menghindar dari rayuan Fida. "Nah, masnand maunya apa? Ntar aku kasi deh, yayaya? Masnand mau peralatan gambar lagi? Janji deh, aku mintain sama mama ntar. Hehe, syaratnya yaa, antarin dulu aku ke taman." rayu Fida untuk yang kedua kalinya. "Iya deh, adekku sayang. Tau banget aku ga nahan sama alat gambar. haahhhh~" sahut Nandi sambil membukakan pintu mobil untuk adiknya. "yeeyyy... Masnand baik, aku sayaaang sekali sama masnand, muah muah haha" lonjak Fida gembira sambil mencium pipi mas kesayangannya itu. "ih, najong gua, Fid" sahut Nandi sambil berpura-pura mengalihkan pandangan. Padahal sejujurnya, ia sangat mengkhawatirkan keselamatan adik semata wayangnya itu...

Sesampainya di taman... (Bersambung)