W E L C O M E T O M Y B L O G

Make Your Own Story \(^O^)/

Monday, 14 March 2011

Pulang

Aku harus pulang dengan cepat hari ini!! adikku pasti sudah menungguku dari tadi! Tuhan, beri aku kekuatan untuk dapat berlari kencang!!!
Italic



***


Aku siswi SMA kelas satu. Sekolahku tidak terlalu bagus. Dan tidak terlalu buruk juga. Jam pulang di sekolahku lebih lambat satu atau dua jam dengan jam pulang di sekolah adikku. Ya. Aku punya adik perempuan yang lucu. Dia kelas 2 SD.
Kami anak yatim piatu. Aku dan adikku tidak diasuh oleh siapa siapa. Kami hanya tinggal berdua. Kami sudah biasa hidup mandiri. Soal keuangan, pamanku yang membereskannya. Ia tidak tinggal bersama kami bukan berarti ia tidak peduli. Ia sangat sibuk dengan pekerjaan dan keluarganya. Dan aku senang. Karena paman menjanjikanku untuk bekerja di perusahaan kecilnya ketika aku sudah besar nanti.
Ah ya. Kembali lagi ke nasib kami. Setiap pulang sekolah, aku selalu berlari kencang untuk dapat menjemput adikku tanpa membiarkannya menunggu lama.

***

Ah itu dia adikku. Seperti biasa. Dia berambut hitam pendek, tetapi tetap dikuncir dua. Dia selalu menunggu di tempat pak satpam berada. Dia tersenyum kepadaku. Ini waktunya kami untuk pulang.

Malam ini aku memasak sup murah. Karena malam ini adalah malam tanggung bulan. Besok pagi, aku harus menyiapkan sarapan untuk kami berdua. Biasanya aku bangun dua jam lebih awal.

***

Adikku berangkat ke sekolah sendiri. Karena masih pagi, tidak mungkin para penculik berkeliaran.
Aku juga tidak perlu berlari kencang ketika berangkat ke sekolah.

Aku sering disebut anak teladan oleh teman teman dan guru guruku. Sungguh seperti cerita film. Anak yatim yang teladan. Terkadang, mungkin film sedikit benar.

Tanpa disadari bel pulang pun berdering. Yup. Aku harus berlari. Adikku sayang, tunggulah aku.
Aku berlari. Membayangkan wajah adikku yang dengan polosnya menungguku. Sungguh anak yang setia. Aku merasakan hal yang aneh. Ada sesuatu yang menjanggal. Ah biarlah. Adikkulah yang paling penting.

Ah itu dia adikku. Seperti biasa. Dia selalu menunggu di tempat pak satpam berada. Kulambaikan tanganku. Tetapi ia diam saja.
Oh.
Mungkin ia tidak melihatku.
Wajahnya datar saja ketika aku datang. Biasanya ia tersenyum senang.
Aneh. Ada yang aneh pada adikku. Ia hanya berdiri memegang tas gembloknya. Ia melongok sana sini seperti mencariku.
Aku tidak paham dengan tingkah lakunya.
Ayo kita pulang.
Ia hanya diam.
Hujanpun turun. Deras sekali.
Ayo kita berteduh.
tetapi ia tidak begitu. Ia membiarkan badannya basah kuyup di depan gerbang sekolahnya sambil memegang tas gembloknya itu. Rambutnya yang kukuncir dua tadi pagi terlihat layu.
Pak satpam menghampiri adikku. Dan menyentuh pundaknya.
HEY ! jangan sentuh adikku!
Ia membawa adikku.
Adikku menurut saja.
Ah dasar bodoh.
Aku berfikir untuk menghantam pak satpam dari belakang.
Kuikuti kemana mereka pergi. Kuambil sebatang kayu besar.
Berjaga jaga untuk menghantam satpam itu.
Mereka pergi jauh juga.
Aku selalu bersembunyi di belakang mereka. Aku mencari kuda kuda untuk menghantam satpam itu.
Hey ! kalian mau kemana?
Mereka berjalan dan terus berjalan.
Kuperhatikan.
Jalan ini menuju sekolahku.
Tetapi aku tetap melanjutkan persembunyianku.


Tiba tiba adikku menangis.
Dasar satpam laknat. Tega teganya kau membuat adikku menangis.
Ya.
Ini saatnya untuk menghantamnya.
1
2
3
Tanganku berhenti.
Aku tidak paham dengan semua ini.
Genggaman satpam itu dengan adikku semakin erat.
Aku benci melihatnya.
Aku tidak paham dengan semua ini.
Hujan yang sudah tidak deras lagi.
Tetapi gemercik itu mengiringi tangisan adikku.
Suara hujan.
Suara tangis adikku.
Mereka bersatu.
Mereka menyambut seorang wanita.
Kulihat diriku terkapar mati penuh darah.
“sekarang kakak bisa pulang dengan tenang. Tak perlu berlari kencang“ kata adikku terisak.
Aku tidak paham dengan semua ini.
Sungguh.
aku tidak paham dengan semua ini.